Table of Contents
*Ketika Jalanan Bicara: Mahasiswa dan Tahun Pertama Prabowo–Gibran*
*Oleh: Abdul Hadi – Tuna Netra*
Senin, 20 Oktober 2025 Sinergibost | Jakarta
Jakarta siang ini bukan sekadar panas karena cuaca. Jalanan di sekitar Patung Kuda mendidih oleh suara-suara muda yang menuntut arah baru bagi negeri. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus berkumpul, membawa spanduk, megafon, dan harapan. Mereka tidak datang untuk merayakan, tapi untuk mengingatkan: satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran telah berlalu, dan janji-janji belum cukup ditepati.
Saya menyaksikan dari kejauhan, dengan mata yang tak lagi melihat tapi hati yang masih bisa membaca. Aksi bertajuk _#Indonesia(C)emas_ dan _#CukupSatuTahun_ bukan sekadar kritik, tapi cermin dari kegelisahan generasi yang tumbuh di tengah ketimpangan, ketidakpastian, dan narasi kemajuan yang terasa jauh dari kenyataan.
Sebanyak 1.743 aparat dikerahkan untuk mengamankan demonstrasi ini. Mereka berdiri berjajar, sebagian berseragam lengkap, sebagian bersikap tenang. Di sisi lain, mahasiswa menyuarakan tuntutan: reformasi Polri, transparansi anggaran, pendidikan yang inklusif, dan penolakan terhadap kekuasaan yang represif.
Saya tidak melihat bentrokan. Tapi saya merasakan ketegangan yang tak terlihat. Ketika suara rakyat dibatasi oleh pagar kawat dan barikade, demokrasi terasa seperti panggung yang hanya bisa ditonton, bukan dimainkan.
*Aspirasi: Bukan Sekadar Tuntutan*
Mahasiswa hari ini tidak hanya menolak, mereka menawarkan. Mereka ingin ruang partisipasi yang nyata, bukan sekadar simbolik. Mereka ingin kebijakan yang berbasis data dan kebutuhan rakyat, bukan sekadar retorika kampanye. Mereka ingin pendidikan yang tidak hanya mencetak ijazah, tapi membentuk karakter dan daya kritis.
Saya mendengar seorang mahasiswa berkata, “Kami tidak ingin menggulingkan, kami ingin mengingatkan.” Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Karena demokrasi sejatinya bukan tentang siapa yang berkuasa, tapi bagaimana kekuasaan diawasi.
*Solusi: Dari Jalanan ke Kebijakan*
Sebagai bagian dari warga negara, saya percaya bahwa solusi tidak lahir dari kekerasan, tapi dari keberanian untuk mendengar. Pemerintah perlu membuka ruang dialog yang jujur dan setara. Transparansi anggaran bisa dimulai dari portal publik yang mudah diakses. Reformasi Polri harus melibatkan pengawasan sipil dan audit independen. Pendidikan harus didesain ulang agar relevan dengan tantangan zaman.
Dan yang paling penting: jangan takut pada kritik. Karena kritik adalah tanda bahwa rakyat masih peduli.
Hari ini, jalanan bicara. Dan kita semua sebaiknya mendengarkan.
Posting Komentar