Table of Contents
🌌 Luka Merah di Tanah Retak, Cahaya Putih di Langit Doa
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat…
tanahmu basah oleh banjir yang menggila,
lerengmu runtuh bersama longsor yang merobek dada bumi,
rumah-rumah hanyut, sawah-sawah lenyap,
dan suara tangis bercampur deras arus sungai.
Kami di sini mulai belajar menyuap nasi,
meski rasanya masih bercampur lumpur dan asin air mata.
Sudahkah kalian sempat merasakan hangatnya hidangan,
atau masih menahan lapar bersama dingin yang panjang?
Malam kami sudah terbiasa tanpa nyenyak,
ranjang kami dipenuhi bayangan kehilangan,
dan mimpi hanya datang sebagai bayang-bayang basah
yang mengetuk pintu gelap.
Bagaimana dengan kalian?
Apakah malam masih memberi mimpi,
atau hanya suara deras air
yang terus mengoyak jiwa?
Kami sedang belajar berdiri lagi,
meski kaki ini masih goyah,
meski luka belum kering,
meski tanah masih licin oleh lumpur yang menelan jejak.
Namun kami mencoba, pelan-pelan,
seperti tunas kecil yang berani menantang banjir,
meski arus terus merobek daunnya.
Perahu-perahu dan burung besi silih berganti,
membawa bantuan, membawa tangan-tangan yang peduli.
Apakah sayap mereka sudah singgah di tanah kalian juga?
Kami gelisah menanti kabar,
meski tangis kehilangan belum reda,
meski doa masih bergetar di bibir yang pecah.
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat…
semoga segera kami dengar suara kalian,
suara yang bangkit dari lumpur,
suara yang mengajak kita bersama-sama
mengobati luka, mengikhlaskan yang tak kembali,
dan belajar berdiri lagi.
Bencana, pergilah menjauh!
Biarkan tanah ini kembali bernapas,
biarkan sawah kembali hijau,
biarkan anak-anak kembali tertawa di halaman rumah.
Kami mohon pada langit,
agar hujan berhenti menumpahkan derita,
agar sungai kembali tenang,
agar bumi kembali ramah pada manusia.
Solusi ada dalam genggaman kita:
bangun kembali dengan gotong royong,
seperti tangan-tangan yang saling mengikat tali harapan.
Rawat jiwa dengan doa dan seni,
karena harapan dan doa adalah obat bagi hati yang patah.
Jaga alam dengan bijak,
agar hutan tidak lagi menangis,
agar sungai tidak lagi meluap membawa derita.
Kelak, bila bekas luka ini masih pedih,
biarlah kita saling memeluk,
biarlah kita saling menangis,
agar air mata menjadi sungai penguat,
agar pelukan menjadi jembatan harapan.
Dan ketika fajar akhirnya datang,
biarlah tanah Sumatera bernyanyi lagi,
biarlah jiwa-jiwa yang tersisa
menjadi cahaya yang tak pernah padam.
Dari Pulau Jawa,
kami kirim doa, kami kirim rindu,
kami kirim janji:
Pulih Bersama Tanah Sumatera
✍️ Ditulis oleh Abdul Hadi, difabel netra
Sebuah suara dari kegelapan yang tetap menyalakan cahaya,
sebuah puisi untuk Sumatera, agar luka berubah menjadi harapan.
Posting Komentar